Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » kaba » Etika Rumah Makan Padang » Etika Rumah Makan Padang

Etika Rumah Makan Padang

(58 Views) Mei 2, 2019 1:17 am | Published by | No comment



Saya dan teman SMA makan nasi kapau di Food Court, Thamrin City, setelah makan kami sibuk bercerita tentang banyak hal. Piring dan gelas kotor masih tergeletak di atas meja, tidak angkat oleh pegawai nasi kapau. Berbeda kondisinya ketika salah seorang teman kami ulang tahun, kami makan di restoran di salah satu Mal (tidak restoran Minang), setelah selesai makan, baru saja makanan di piring habis, pelayan restoran segera mengangkat piring dan gelas kosong itu. Sehingga, meja yang tadinya penuh, berangsur-angsur kosong, karena sebagian piring dan gelas sudah diangkat. Ada dua pilihan ; Pesan makanan lagi agar bisa duduk di sana sambil ngobrol atau pergi. Rasanya aneh, kita duduk sambil ngobrol, padahal di atas meja tidak ada piring dan gelas.



Ada etika tidak tertulis dalam di rumah makan Minang. Mereka tidak akan mengangkat piring dan gelas kosong bekas makanan, sampai tamu berdiri, membayar, dan pergi. Mereka juga tidak menawarkan makanan tambahan atau makanan lain, kecuali tamu yang memesan. Karena, warung atau rumah makan, selain menjadi tempat untuk makan, sekaligus merupakan tempat untuk bersilaturahmi. Jika suasana di rumah makan itu menyenangkan, tamu akan kembali datang dan makan di tempat itu. Tamu tidak hanya datang untuk makan, tapi untuk bertemu. Selain itu, cara makan dan membayar di rumah makan Padang adalah dengan menyediakan semua menu. Apa yang dimakan, itu yang dibayar. Berbeda dengan restoran lain, apa yang dipesan itu yang dibayar, walaupun makanan yang dipesan tidak dimakan.

Ini terjadi pada saat kami memesan makanan, dari 8 orang, kami memesan 6 piring. Dari 6 piring nasi yang sudah dipesan, ada 1 piring nasi yang tidak dimakan, karena semua sudah kekenyangan, tapi 1 piring nasi itu tetap harus dibayar. Berbeda dengan rumah makan Minang, jika ada 8 orang dan mereka menyediakan 8 nasi, tapi ada 2 piring nasi yang tidak dimakan (tidak disentuh), tamu hanya akan membayar 6 piring nasi.

Di rumah makan Padang, pembayaran dilakukan setelah selesai makan, tidak sebelum makan. Itu lah, kenapa piring dan gelas kotor tidak diangkat, agar pegawai rumah makan mudah menghitung, apa saja yang telah dimakan dan berapa jumlahnya. Mereka melihat jumlah piring nasi, dan jumlah bekas piring lauk pauk. Dari bekas piring itu, mereka mengetahui lauk pauk apa saja yang sudah dimakan oleh tamu.




No comment for Etika Rumah Makan Padang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *